Jumat, 03 September 2010

Trikomoniasis

Trikomoniasis

Trikomoniasis, suatu tipe dari vaginitis, umumnya adalah sebuah Penyakit Menular Seksual (PMS). Karena adanya kebiasaan penentuan jenis penyakit dan pengobatan oleh klien sendiri dan diagnosis oleh petugas kesehatan tanpa menggunakan pemeriksaan yang memadai, beberapa orang dengan trikomoniasis tidak terdiagnosis. Penentuan jenis penyakit sendiri dapat terjadi karena terdapatnya obat-obat yang dijual bebas. Gejala dan tanda trikomoniasis tidak begitu spesifik, dan penegakan diagnosis memebutuhkan pemeriksaan laboratorium sederhana seperti sediaan basah (wet mount).
Trikomoniasis dapat menyebabkan seseorang kehilangan hari kerjanya karena adanya rasa yang tidak enak yang disebabkannya, sehingga infeksi ini seharusnya tidak diabaikan begitu saja. Adanya kejadian infeksi gabungan dengan PMS lain penting untuk diperhatikan pada saat membuat diagnosis trikomoniasis. Trikomoniasis merupakan masalah bagi penderitanya karena gejala dan kemungkinan komplikasi yang disebabkannya.

Patofisiologi
Pada gadis-gadis sebelum usia pubertas, dinding vagina yang sehat tipis dan hypoestrogenic, dengan pH lebih besar dari 4,7, pemeriksaan dengan pembiakan (kultur) akan menunjukkan beberapa mikroorganisma. Setelah gadis menjadi dewasa, dinding vagina menebal dan laktobasilus menjadi mikroorganisma yang dominan, PH vagina menurun hingga kurang dari 4,5.
Laktobasilus penting untuk melindungi vagina dari infeksi, dan laktobasilus adalah flora dari vagina yang dominan (walaupun bukan merupakan stau-satunya flora vagina). Masa inkubasi sebelum timbulnya gejala setelah adanya infeksi bervariasi antara 3-28 hari. Selama terjadinya infeksi protozoa Trichomonas vaginalis, trikomonas yang bergerak-gerak (jerky motile trichomonads) dapat dilihat dari pemeriksaan dengan sediaan basah. PH vagina naik, sebagaimana halnya dengan jumlah lekosit polymorphonuclear (PMN). Lekosit PMN merupakan mekanisme pertahanan utama dari pejamu (host/manuasia), dan mereka merespon terhadap adanya substansi kimiawi yang dikeluarkan trichomonas. T vaginalis merusak sel epitel dengan cara kontak langsung dan dengan cara mengeluarkan substansi sitotoksik. T vaginalis juga menempel pada protein plasma pejamu, sehingga mencegah pengenalan oleh mekanisme alternatif yang ada di pejamu dan proteinase pejamu terhadap masuknya T vaginalis.

Trichomonas vaginalis

Frekuensi
• Di Amerika Serikat: Trikomoniasis adalah satu dari PMS yang paling sering terjadi, dengan angka insiden sekitar 2-3 juta per tahun.
• Internasional: Di seluruh dunia, angka insiden adalah sekitar 180 juta per tahun. Sementara angka prevalensinya bervariasi dari 5% pada klien klinik KB sampai 75% pada pekerja seks.

Mortalitas/Morbiditas
• Trikomoniasis memiliki angka infeksi gabungan yang cukup tinggi dengan PMS lain. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wolner-Hanssen dkk, menemukan gonore berhubungan secara signifikan dengan infeksi trikomonas. Trikomoniasis juga memfasilitasi penularan human immunodeficiency virus (HIV).
• Pada perempuan gejala adanya infeksi trikomoniasis dapat bervariasi dari tidak ada gejala (asimptomatik) sampai adanya tanda radang seperti gatal-gatal pada vagina dan adanya duh tubuh vagina (vaginal discharge/keputihan).
• Pada perempuan hamil, trikomoniasis yang tidak diobati berhubungan dengan ketuban pecah dini, bayi berat lahir rendah dan cellulites pasca histerektomi.

Jenis kelamin
• Trikomoniasis terdapat baik pada laki-laki maupun perempuan, namun lebih sering ditemukan pada perempuan.
• Pada laki-laki, gejala adanya trikomoniasis bervariasi dari tidak ada gejala (asimtomatik/karier) sampai uretritis, prostatitis, atau epididymo-orchitis.
• Perempuan juga dapat merupakan karier asimptomatis, namun umumnya gejala akan menunjukkan adanya proses peradangan (lihat bagian klinis di bawah).

Umur
Trikomoniasis lebih sering terjadi pada laki-laki dan perempuan yang aktif seksual baik remaja maupun dewasa.

Keluhan
Perempuan
o Klien dengan trikomoniasis mungkin merasakan gatal-gatal atau rasa panas pada vagina. Kemungkin juga ada keputihan yang berbau tidak normal (busuk).
o Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual mungkin juga merupakan keluhan utama yang dirasakan klien dengan trikomoniasis.
o Keputihan abnormal yang purulen, berbusa atau berdarah kemungkinan terjadi juga. Keputihan yang berbusa yang dianggap sebagai tanda klasik dari trikomoniasis hanya terjadi pada 12% dari klien yang mengalami infeksi ini.
o Pasien dengan trikomoniasis dapat juga mengalami perdarahan pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah.

Vaginitis
Laki-laki
o Kebanyakan infeksi trikomoniasis pada laki-laki asimptomatik.
o Mungkin ada keluhan nyeri pada saat kencing, nyeri pada uretra, testis atau nyeri perut bagian bawah.

Tanda Fisik
Perempuan
o Pada pemeriksaan panggul dengan spekulum, tanda-tanda trikomoniasis diantaranya colpitis macularis (disebut sebagai strawberry cervix); keputihan yang purulen yang dapat berwarna putih krem, kuning, hijau atau abu-abu, keputihan yang berbusa, erythema vagina dan vulva.
o Colpitis macularis dan keputihan yang berbusa bersama-sama memiliki spesifisitas 99% dan secara sendiri-sendiri memiliki nilai prediksi positif (positive predictive value) 90% dan 62%. Yang menarik, penelitian yang dilakukan oleh Wolner-Hanssen dkk. Menemukan bahwa pemeriksaan dengan mata telanjang (tanpa bantuan alat) menemukan colpitis macularis hanya 1,7% dari klien dengan trikomoniasis sedangkan pemeriksaan dengan bantuan kolposkopi mendapatkan colpitis macularis sebanyak 70% dari pasien yang menderita trikomoniasis yang dipastikan diagnosisnya dengan pemeriksaan sediaan basah.
o Sebagian besar dari gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik untuk infeksi trikomoniasis dan dapat terjadi pada berbagai infeksi vagina dan serviks yang lain. Sehingga jika hanya bergantung pada pemeriksaan fisik saja banyak klien dengan trikomoniasis akan tidak terdiagnosis. Diagnosis pasti trikomoniasis dapat ditegakkan dengan adanya protozoa berflagel yang terlihat dari pemeriksaan sediaan basah, Papanicolaou (Pap) smears, atau media kultur.
Laki-laki
o Kebanyakan laki-laki yang terinfeksi trikomoniasis tidak ada tanda fisik.
o Pada beberapa kasus, laki-laki dengan infeksi ini mungkin menunjukkan adanya discharge dari penis.
o Beberapa kasus yang lain mungkin ada tanda-tanda prostatitis atau epididymitis.
Bayi baru lahir perempuan: T vaginalis yang didapat pada saat melewati jalan lahir dapat menyebabkan keputihan pada bayi pada minggu-minggu pertama kehidupannya.
Anak-anak sebelum usia pubertas
o Anak-anak sebelum usia pubertas yang terkena trikomoniasis akan menunjukkan gejala yang mirip dengan gejala pada klien remaja dan dewasa.
o Adanya T vaginalis pada anak-anak sebelum pubertas harus dicurigai kemungkinan adanya kekerasan seksual.

Penyebab
• T vaginalis adalah protozoa dengan flagela.
• Rata-rata masa inkubasi adalah 1 minggu namun dapat bervariasi antara 4-28 hari.
• Trikomoniasis umumnya merupakan penyakit menular seksual.
• Risiko untuk terkena infeksi ini tergantung pada aktifitas seksual klien.
• Faktor-faktor risiko untuk terkena T vaginalis termasuk hal berikut ini:
o Jumlah pasangan seks selama hidupnya
o Pasangan seksual saat ini
o Tidak memakai kondom saat hubungan seksual
o Memakai kontarsepsi oral (pil KB)

Pemeriksan laboratorium
• Lakukan pemeriksaan laboratorium untuk klien yang memiliki gejala-gejala vaginitis. Berbagai pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat dan dengan fasilitas laboratorium sederhana. Dasar dari pemastian diagnosis adalah pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan untuk mengeluarkan penyebab lain yang mungkin juga menyebabkan keluhan pada klien.
• pH vagina
o Penentuan pH vagina dengan cara menempelkan swab dengan sekresi vagina pada kertas pH paper dengan nilai antara 3.5-5.5.
o pH vagina normal secara praktis menunjukkan diagnosis trikomoniasis negatif. pH lebih dari 4.5 ditemukan pada trikomoniasis dan vaginosis bacterial.
• Tes Whiff
o Tes ini memeriksa adanya amine dengan menambahkan KOH pada discharge vagina dan membaui adanya bau seperti bau ikan, tes ini berguna untuk menyingkirkan kemungkinan vaginosis bakterial.
o Saat ini telah ada pemeriksaan pH Vagina dan tes whiff yang dikombinasikan dalam satu bentuk tes dengan tanda negatif positif.
• Sediaan Basah (Wet mount)
o Pemeriksaan dengan sediaan garam basah melalui mikrokoskop terhadap secret vagina yang diusapkan pada objek glass dapat mengidentifikasi protozoa yang berbentuk seperti tetesan air, berflagela, dan bergerak. Pemeriksaan ini juga dapat menemukan clue cells (tanda adanya penyakit vaginosis bacterial). Rasio sel darah putih (lekosit) terhadap sel epitel juga dapat dihitung.
o Sensitivitas pemeriksaan ini mencapai 40-60%. Sedangkan spesifisitas dapat mencapai 100% jika sediaan garam basah segera dilihat di bawah mikroskop.
• Pap smear
o Sensitivitas untuk mendeteksi sama dengan pemeriksaan sediaan garam basah, yaitu 40-60%.
o Sedangkan spesifisitas mencapai 95-99% untuk petugas-petugas yang sudah terlatih.
• Pemeriksaan lain
o Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya trikomoniasis yaitu pemeriksaan biakan (kultur) secret vagina, direct immunofluorescence assay, dan Polymerase chain reaction (PCR)
• Pemeriksaan PMS lain
o Jika ditemukan trikomoniasis maka harus dilakukan juga pemeriksaan untuk PMS lain seperti sifilis, Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C.
o Infeksi gabungan dengan gonore cukup tinggi.

Hal-hal lain
• Trikomoniasis dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi pada kehamilan.
• Adanya T vaginalis pada populasi anak dapat untuk memprediksi kemungkinan adanya kekerasan seksual pada anak.
• CDC merekomendasikan metronidazole untuk digunakan dalam kehamilan. Namun, beberapa dokter lebih cenderung untuk memakai clotrimazole terutama pada trimester pertama kehamilan.
• Pengobatan trikomoniasis untuk klien dengan HIV positif sama dengan klien dengan HIV negatif.

Referensi
• American Academy of Pediatrics: Trichomonas vaginalis infections. In: Red Book. 2000: 588-589.
• Centers for Disease Control and Prevention: 1998 guidelines for treatment of sexually transmitted diseases. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 1998 Jan 23; 47(RR-1): 1-111
• DeMeo LR, Draper DL, McGregor JA, et al: Evaluation of a deoxyribonucleic acid probe for the detection of Trichomonas vaginalis in vaginal secretions. Am J Obstet Gynecol 1996 Apr; 174(4): 1339-42
• Finegold SM, Mathisen GE: Metronidazole. In: Principles and Practice of Infectious Diseases. 1990: 303-8.
• Hammill HA: Trichomonas vaginalis. Obstet Gynecol Clin North Am 1989 Sep; 16(3): 531-40
• Jirovec O, Petru M: Trichomonas vaginalis and trikomoniasis. Adv Parasitol 1968; 6: 117-88
• Krieger JN, Tam MR, Stevens CE, et al: Diagnosis of trikomoniasis. Comparison of conventional wet-mount examination with cytologic studies, cultures, and monoclonal antibody staining of direct specimens. JAMA 1988 Feb 26; 259(8): 1223-7
• Laga M, Manoka A, Kivuvu M, et al: Non-ulcerative sexually transmitted diseases as risk factors for HIV-1 transmission in women: results from a cohort study. AIDS 1993 Jan; 7(1): 95-102
• Lossick JG, Kent HL: Trikomoniasis: trends in diagnosis and management. Am J Obstet Gynecol 1991 Oct; 165(4 Pt 2): 1217-22
• Mulcahy FM, Lacey CJ: Sexually transmitted infections in adolescent girls. Genitourin Med 1987 Apr; 63(2): 119-21
• Nyirjesy P: Vaginitis in the adolescent patient. Pediatr Clin North Am 1999 Aug; 46(4): 733-45, xi
• Petrin D, Delgaty K, Bhatt R, Garber G: Clinical and microbiological aspects of Trichomonas vaginalis. Clin Microbiol Rev 1998 Apr; 11(2): 300-17
• Sobel JD, Nagappan V, Nyirjesy P: Metronidazole-resistant vaginal trikomoniasis--an emerging problem. N Engl J Med 1999 Jul 22; 341(4): 292-3
• Sobel JD: Vaginitis. N Engl J Med 1997 Dec 25; 337(26): 1896-903
• Sobel JD: Vulvovaginitis in healthy women. Compr Ther 1999 Jun-Jul; 25(6-7): 335-46
• Wolner-Hanssen P, Krieger JN, Stevens CE, et al: Clinical manifestations of vaginal trikomoniasis. JAMA 1989 Jan 27; 261(4): 571-6
• Yule A, Gellan MC, Oriel JD, Ackers JP: Detection of Trichomonas vaginalis antigen in women by enzyme immunoassay. J Clin Pathol 1987 May; 40(5): 566

1 komentar:

  1. Klinik Apollo ialah Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin ( Klinik Andrologi & Ginekologi ). Klinik Apollo merupakan Klinik berstandar Internasional terbaik di Jakarta Indonesia. Selain mempunyai alat-alat medis terbaik, teranyar & canggih, klinik Apollo juga memiliki Dokter Spesialis di sektor Kesehatan Kulit dan Kelamin yang berasal dari Indonesia & bekerja sama dengan berbagai rumah sakit & klinik internasional. Untuk biaya klinik Apollo, pembayaran tergantung pada kebutuhan dan penanganan yang diperlukan pasien. Klinik Apollo memiliki tarif yang terbilang cukup terjangkau oleh semua kalangan jika dibandingkan dengan penyedia layanan kesehatan lainnya.
    Buat pengobatan penyakit laki-laki seperti; Impotensi ( lemah syahwat), prostat, infeksi saluran kemih, ejakulasi dini/impoten, siskumsisis/khitan ,terapi kelamin, Infeksi prostat (prostatitis), kista prostat, prostatitis (radang prostat), hyperlasia kelenjar prostat, hipertropi prostat, Sexually transmitted diseases (STDs), phthirus pubis, chlamydia (klamidia), kakroid (Ulkus molle), Lymphogranuloma LGV, kondiloma akuminata (jengger ayam), non-gonococcal urethritis (NGU), trikomoniasis, sifilis atau Penyakit raja singa, HIV/aids, herpes genital, gonore (Kencing nanah), disfungsi ereksi, hambatan orgasme, ejakulasi retrograde, keengganan seksual (sexual aversion disorder), spermatorrhea, hipogonadisme,sakit ejakulasi, dyspareunia,priapismus, hambatan orgasme.
    Pengobatan penyakit perempuan seperti; peradangan ginekologi, pms perempuan, oligomenorrhea / keputihan / pek tay, erosi serviks, perbaikan selaput dara, operasi ginekologi, bartolinitis,endometriosis, menstruasi tak rutin, perdarahan uterus disfungsional (DUB), mioma uteri, kista leher rahim dll bisa anda dapatkan di klinik Apollo.

    kesehatankelamin
    klinik kelamin
    wartadokter

    BalasHapus