Jumat, 03 September 2010

Anemia

Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal.
Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh.
Per definisi menurut para ahli, anemia disebut sebagai keadaan dimana tubuh kekurangan jumlah sel darah merah ditandai dengan kadar Hb ( hemoglobin ) lebih rendah dari normal. Kadar Hb diperiksa lewat pemeriksaan darah di laboratorium klinik.
Batas kadar normal Hb menurut WHO :

Kelompok umur Kadar Hb g/100ml
6 bulan-6 tahun 11
6 tahun-14 tahun 12
Laki- laki dewasa 13
Wanita dewasa tidak hamil 12
Wanita hamil 11

Turunnya kadar hemoglobin dapat disebabkan berbagai hal sehingga jenis anemia dapat bermacam- macam :
- bila dikarenakan adanya gangguan produksi sel darah di sumsum tulang maka disebut sebagai Anemia aplastik
- bila disebabkan karena kekurangan zat- zat pembentuk sel darah ( besi,vit b12,asam folat ) disebut sebagai Anemia defisiensi.
- Bila ada gangguan antibodi yang dapat menghancurkan sel darah merah disebut sebagai Anemia hemolitik
- Bila kelainan genetik dimana sel darah merah yang diproduksi tidak sehat dan mudah hancur disebut sebagai Talasemia
Sel darah merah itu sendiri memiliki fungsi yang vital yaitu bertugas membawa oksigen ke otak dan ke seluruh organ jaringan tubuh. Bisa dibayangkan bila sel darah merah kita kurang ( seperti pada anemia ) maka supply O2 ke seluruh organ, termasuk otak juga berkurang, proses metabolisme tingkat sel untuk penghasilan energi menjadi tidak optimal karena dalam proses tersebut sangat diperlukan oksigen. Maka timbulah gejala-gejala anemia seperti lemah, letih, lesu, kurang konsentrasi dalam berpikir, dll.

Klasifikasi Anemia
1. Klasifikasi berdasarkan morfologi
a. Anemia Hipokromik Mikrositer (MCV <>
1. Anemia defisiensi besi
2. Thalasemia
3. Anemia akibat penyakit kronik
4. Anemia sideroblastik
b. Anemia Normokromik Normositer (MCV 80-95 fl, MCH 27-34 pg)
1. Anemia pasca perdarahan akut
2. Anemia aplasrik-hipoplastik
3. Anemia hemolitik – terutama yang didapat
4. Anemia akibat penyakit kronis
5. Anemia mieloplastik
6. Anemia pada gagal ginjal kronis
7. Anemia pada mielifibrosis
8. Anemia pada sindroma mielodisplastik
9. Anemia pada leukemia akut
c. Anemia Makrositer (MCV > 95 fl)
1.Megaloblastik
a. Anemia defesiensi folat
b. Anemia defesiensi vitamin B12
2.Non megaloblastik
a. Anemia pada penyakit hati kronik
b. Anemia pada hipotiroid
c. Anemia pada sindroma mielodisplastik
2. Klasifikasi berdasarkan etiopatogenesis
a. Produksi eritrosit menurun
1. Kekurangan bahan untuk eritrosit
2. Gangguan utilisasi besi
3. Kerusakan jaringan sumsum tulang
4. Fungsi sumsum tulang kurang baik oleh karena sebab tidak diketahui
b. Kehilangan eritrosit dari tubuh
1. Anemia pasca perdarahan akut
2. Anemia pasca perdarahan kronis
c. Peningkatan penghancuran eritrosit dalam tubuh
1. Faktor ekstrakorpuskuler
a. Antibodi terhadap eritrosit
1. Atoantibodi : AIHA (autoimmune hemolytic anemia)
2. Isoantibodi : HDN (hemolytic disease of new born)
b. Hipersplenisme
c. Pemaparan terhadapa bahan kimia
d. Akibat infeksi bakteri/parasit
e. Kerusakan mekanis
2. Faktor intrakorpuskuler
a. Gangguan membran
1. Hereditary spherocytosis
2. Hereditary elliptocytosis
b. Gangguan enzim
1. Defesiensi pyruvat kinase
2. Defesiensi G6PD (glucose-6 phosphate dehydrogenase)
c. Ganggguan hemoglobin
1. Hemoglobinopati structural
2. Thalasemia

Penyebab Anemia
Penyebab umum dari anemia:
o Perdarahan hebat
o Akut (mendadak)
o Kecelakaan
o Pembedahan
o Persalinan
o Pecah pembuluh darah
o Kronik (menahun)
o Perdarahan hidung
o Wasir (hemoroid)
o Ulkus peptikum
o Kanker atau polip di saluran pencernaan
o Tumor ginjal atau kandung kemih
o Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
• Berkurangnya pembentukan sel darah merah
o Kekurangan zat besi
o Kekurangan vitamin B12
o Kekurangan asam folat
o Kekurangan vitamin C
o Penyakit kronik
o Meningkatnya penghancuran sel darah merah
o Pembesaran limpa
o Kerusakan mekanik pada sel darah merah
o Reaksi autoimun terhadap sel darah merah:
 Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
 Sferositosis herediter
 Elliptositosis herediter
o Kekurangan G6PD
o Penyakit sel sabit
o Penyakit hemoglobin C
o Penyakit hemoglobin S-C
o Penyakit hemoglobin E
o Thalasemia
Berikut adalah beberapa penyebab anemia yang paling sering ditemukan.
1. Kekurangan zat besi
Perempuan akan lebih mudah menderita anemia bila dibandingkan dengan laki laki karena perempuan mengalami kehilangan darah tiap bulan saat menstruasi. Perempuan juga rentan mengalami kekurangan zat besi. Pada orang dewasa, kekurangan zat besi sering disebabkan oleh karena kehilangan darah khronis seperti menstruasi. Kehilangan darah khronis juga bisa disebabkan oleh karena kanker terutama kanker pada usus besar.
Anemia juga bisa disebabkan oleh karena perdarahan usus yang disebabkan oleh karena konsumsi obat obatan yang mengiritasi usus.Obat yang termasuk golongan ini terutama obat NSAID.
Pada bayi dan anak anak, anemia kekurangan zat besi biasanya disebabkan karena kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi.
2. Perdarahan
Perdarahan yang banyak saat trauma baik di dalam maupun di luar tubuh akan menyebabkan anemia dalam waktu yang relatif singkat. Perdarahan dalam jumlah banyak biasanya terjadi pada maag khronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding lambung.
3. Genetik
Kelainan herediter atau keturunan juga bisa menyebabkan anemia. Kelainan genetik ini terutama terjadi pada umur sel darah merah yang terlampau pendek sehingga sel darah merah yang beredar dalam tubuh akan selalu kekurangan. Anemia jenis ini dikenal dengan nama sickle cell anemia. Gangguan genetik juga bisa menimpa hemoglobin yang mana produksi hemoglobin menjadi sangat rendah. Kelainan ini kita kenal dengan nama thalasemia.
4. Kekurangan vitamin B12
Anemia yang diakibatkan oleh karena kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama anemia pernisiosa.
5. Kekurangan asam folat
Kekurangan asam folat juga sering menyebabkan anemia terutama pada ibu ibu yang sedang hamil.
6. Pecahnya dinding sel darah merah
Anemia yang disebabkan oleh karena pecahnya dinding sel darah merah dikenal dengan nama anemia hemolitik. Reaksi antigen antibodi dicurigai sebagai biang kerok terjadinya anemia jenis ini.
7. Gangguan sumsum tulang
Sumsum tulang sebagai pabrik produksi sel darah juga bisa mengalami gangguan sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menghasilkan sel darah merah yang berkualitas. Gangguan pada sumsum tulang biasanya disebabkan oleh karena mestatase sel kanker dari tempat lain.

Gejala
Gejala-gejala yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.
Gejala anemia dapat dibagi menjadi 3 golongan besar :
1. Gejala Umum anemia atau sindrom anemia
a. Sistem kardiovaskuler
Lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi, sesak waktu kerja, angina pectoris, dan gagal jantung
b. Sistem saraf
Sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata berkunang-kunang, kelemahan otot, iritabel, lesu, perasaan dingin pada ekstremitas
c. Sistem urogenital
Gangguan haid dan libido menurun
d. Epitel
Warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun, rambut tupis dan halus
2. Gejala khas masing-masing anemia
3. Gejala penyakit dasar yang menyebabkan anemia

Diagnosa
• Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Persentase sel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan Trombosit
Pemeriksaan darah lengkap adalah pemeriksaan yang dilakukan pada darah manusia dengan menghitung seluruh komponen pembentuk darah. Saat ini pemeriksaan darah lengkap dilakukan dengan menggunakan mesin khusus. Komponen pembentuk darah antara lain :
• Sel darah merah (RBC).
• Hematokrit.
• Hemoglobin.
• Sel darah putih (WBC).
• Komponen sel darah putih.
• Trombosit/Platelet.
Hanya tiga teratas dari keenam komponen darah ini yang berperanan dalam mendeteksi terjadinya anemia.
Sel darah merah (RBC) merupakan komponen darah yang terbanyak dalam satu mililiter darah. Setiap orang memiliki jutaan bahkan miliaran sel darah merah dalam tubuhnya. Penghitungan sel darah merah digunakan untuk menentukan apakah kadar sel darah merah rendah (anemia) atau tinggi (polisitemia).
Pada perhitungan sel darah merah, akan dinilai jumlah dan ukuran dari sel darah merah. Bentuk sel darah merah pun akan dievaluasi di bawah mikroskop. Segala informasi mulai dari jumlah, ukuran dan bentuk dari sel darah merah akan berguna dalam mendiagnosa suatu anemia. Juga pada pemeriksaan ini dapat diketahui jenis anemia berikut kemungkinan penyebabnya.
Pendekatan diagnostic untuk penderita anemia yaitu berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
1. Anamnesis
Pada anamnesis ditanya mengenai riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu, riwayat gizi, anamnesis mengenai lingkungan fisik sekitar, apakah ada paparan terhadap bahan kilia atau fisik serta riwayat pemakaian obat. Riwayat penyakit keluarga juaga ditanya untuk mengetahui apakah ada faktor keturunan.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dilakukan secara sistematik dan menyeluruh
Perhatian khusus diberikan pada
a. Warna kulit : pucat, sianosis, ikterus, kulit telapak tangan kuning seperti jerami
b. Kuku : koilonychias (kuku sendok)
c. Mata : ikterus, konjugtiva pucat, perubahan pada fundus
d. Mulut : ulserasi, hipertrofi gusi, atrofi papil lidah
e. Limfadenopati, hepatomegali, splenomegali
3. Pemeriksaan laboratorium hematologi
a. Tes penyaring
1. Kadar hemoglobin
2. Indeks eritrosit (MCV,MCH, dan MCHC)
3. Hapusan darah tepi
b. Pemeriksaan rutin
1. Laju endap darah
2. Hitung deferensial
3. Hitung retikulosit
c. Pemeriksaan sumsum tulang
d. Pemeriksaan atas indikasi khusus
1. Anemia defesiensi besi : serum iron, TIBC, saturasi transferin
2. Anemia megaloblastik : asam folat darah/eritrosit, vitamin B12
3. Anemia hemolitik : tes Coomb, elektroforesis Hb
4. Leukemia akut : pemeriksaan sitokimia
5. Diatesa hemoragik : tes faal hemostasis
4. Pemeriksaan laboratorium non hematologi
Pemeriksaan faal ginjal, hati, endokrin, asam urat, kultur bakteri
5. Pemeriksaan penunjang lainnya
a. Biopsy kelenjar  PA
b. Radiologi : Foto Thoraks, bone survey, USG, CT-Scan

Komplikasi
- Komplikasi anemia pada umumnya yang ringan dapat berupa ; kurangnya konsentrasi, daya tahan tubuh yang berkurang, sampai yang berat bisa menyebabkan gagal jantung
- Anemia pada kehamilan dapat memberikan komplikasi
o pada ibu berupa ; abortus,kelahiran prematur,waktu bersalin yang berkepanjangan/lama,pendarahan persalinan,shock,gagal jantung
o Pada anak beruoa ; prematur,kematian janin,cacat bawaan,cadangan besi yang kurang
- Komplikasi anemia pada anak dapat berupa penurunan kecerdasan, terganggunya perkembangan koordinasi mental maupun motorik serta mempengaruhi emosi bayi sehingga lebih penakut, ragu- ragu. Dan bila tidak diindahkan kelainan ini bisa bersifat irreversible..

Pengobatan Anemia
Seperti halnya penyakit lain, pengobatan anemia juga harus ditujukan pada penyebab terjadinya anemia. Misalnya anemia yang disebabkan oleh perdarahan pada usus maka perdarahan itu harus kita hentikan untuk mencegah berlanjutnya anemia. Jika memang diperlukan, operasi dapat dilakukan pada keadaan tertentu.
Suplemen besi diperlukan pada anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan zat besi. Pemberian suntikan vitamin B12 diperlukan untuk mengkoreksi anemia pernisiosa. Transfusi darah merupakan pilihan untuk anemia yang disebabkan oleh perdarahan
- terapi anemia berdasarkan penyebabnya, untuk anemia defisiensi zat besi diberikan terapi zat besi. Konsultasikan ke dokter untuk jenis dan dosis zat besi yang aman
- cara pencegahan anemia pada bayi dan anak ;
o suplementasi zat besi
 ditargetkan pada usia 6 – 12 bulan,karena merupakan usia dengan resiko tinggi anemia def besi
 Pada populasi > 30% wanita hamilnya anemia dianjurkan suplementasi pada seluruh populasi
o Fortifiksai makanan
o Penganekaragaman makanan & kebiasaan makan yang bervariasi

Penatalaksanaan dan Penanggulangan Anemia
1. Ibu hamil sampai masa nifas
Dalam hal ini ibu hamil mendapat prioritas utama karena kelompok ini mempunyai prevalensi Anemia tertinggi, yaitu 63,5 %. Sedangkan ibu nifas yang memerlukan zat besi yang cukup dalam ASInya untuk diberikan kepada bayinya. Pada ibu hamil yang pemberian Fe I pada trimester III dapat diteruskan sampai Fe 3 pada masa nifas.
2. Balita ( 6-60 bulan )
Balita memerlukan konsumsi besi yang cukup untuk proses tumbuh kembangnya, prefalensi Anemia pada balita juga tinggi 55,5 %. Oleh karena itu kelompok ini perlu mendapat prioritas.
3. Anak usia sekolah ( 6-12 tahun )
Prefalensi anemia pada kelompok ini juga tinggi 24-35 %, dengan demikian untuk meningkatkan prestasi belajarnya diperlukan kadar Hemoglobin yang normal.
4. Remaja putri ( 12-18 tahun ) dan wanita usia subur ( WUS )
Dengan pemberian tablet besi pada kelompok ini yang mendekati masa perkawinannya akan berguna bagi mereka untuk mempersiapkan masa kahamilannya selain bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar dan kerjanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar