Jumat, 03 September 2010

Polishing

LAPORAN PRAKTIKUM
BAHAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN GIGI I
POLISHING

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Restorasi gigi diselesaikan sebelum dipasang di dalam rongga mulut untuk mendapatkan tiga manfaat dari perawatan gigi : kesehatan mulut, fungsi, dan estetika.
Restorasi dengan kontur dan pemolesan yang baik akan meningkatkan kesehatan mulut dengan jalan mencegah akumulasi sisa makanan dan bakteri patogen. Ini diperoleh melalui reduksi daerah permukaan total dan mengurangi kekasaran permukaan restorasi. Permukaan yang lebih mulus akan lebih mudah dijaga kebersihannya dengan tindakan pembersihan preventif yang biasa dilakukan sehari-hari karena benang gigi dan sikat gigi akan mendapat jalan masuk yang lebih baik ke semua permukaan dan daerah tepi. Dengan beberapa bahan gigi tertentu, aktivitas karat dan korosi dapat dikurangi cukup besar jika seluruh restorasi dipoles dengan baik. Fungsi rongga mulut akan meningkat jika restorasi dipoles dengan baik karena makanan akan meluncur lebih bebas pada permukaan oklusal dan embrasur selama mastikasi. Yang lebih penting lagi, daerah kontak restorasi yang halus akan mengurangi tingkat keausan pada gigi tetangga maupun antagonisnya. Ini khususnya berlaku untuk bahan restorasi seperti keramik yang mengandung fase yang lebih keras daripada email gigi dan dentin. Permukaan yang kasar menyebabkan terjadinya tekanan kontak yang tinggi yang dapat menimbulkan hilangnya kontak fungsional dan stabilisasi antara gigi-gigi. Akhirnya, kebutuhan estetik dapat membuat dokter gigi menangani permukaan restorasi yang tampak jelas dengan cara berbeda daripada permukaan yang sulit dijangkau. Walaupun pemolesan yang mirip cermin diinginkan demi alasan di atas, jenis permukaan ini mungkin secara estetik kurang baik karena tidak cocok dengan gigi-gigi di sebelahnya bila berada di daerah yang mudah kelihatan seperti permukaan labial dari gigi-gigi aterior atas. Meskipun demikian, permukaan ini tidak terkena tekanan kontak yang tinggi dan mudah dibersihkan. Ciri dan corak anatomi yang samar dapat ditambahkan pada daerah ini tanpa mempengaruhi kesehatan maupun fungsi rongga mulut.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam Polishing di bidang kedokteran gigi
2. Mengetahui faktor yang berpengaruh dalam Polishing di bidang kedokteran gigi
3. Mengetahui komposisi dari bahan Polishing di bidang kedokteran gigi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bahan Abrasif
Bahan yang menyebabkan abrasi; bahan yang digunakan untuk mengikis, mengasah, dan menggosok.

2.2 Manfaat Bahan Abrasif
Restorasi gigi diselesaikan sebelum dipasang di dalam rongga mulut untuk mendapatkan tiga manfaat dari perawatan gigi : kesehatan mulut, fungsi, dan estetika.
Restorasi dengan kontur dan pemolesan yang baik akan meningkatkan kesehatan mulut dengan jalan mencegah akumulasi sisa makanan dan bakteri patogen. Ini diperoleh melalui reduksi daerah permukaan total dan mengurangi kekasaran permukaan restorasi. Permukaan yang lebih mulus akan lebih mudah dijaga kebersihannya dengan tindakan pembersihan preventif yang biasa dilakukan sehari-hari karena benang gigi dan sikat gigi akan mendapat jalan masuk yang lebih baik ke semua permukaan dan daerah tepi. Dengan beberapa bahan gigi tertentu, aktivitas karat dan korosi dapat dikurangi cukup besar jika seluruh restorasi dipoles dengan baik. Fungsi rongga mulut akan meningkat jika restorasi dipoles dengan baik karena makanan akan meluncur lebih bebas pada permukaan oklusal dan embrasur selama mastikasi. Yang lebih penting lagi, daerah kontak restorasi yang halus akan mengurangi tingkat keausan pada gigi tetangga maupun antagonisnya. Ini khususnya berlaku untuk bahan restorasi seperti keramik yang mengandung fase yang lebih keras daripada email gigi dan dentin. Permukaan yang kasar menyebabkan terjadinya tekanan kontak yang tinggi yang dapat menimbulkan hilangnya kontak fungsional dan stabilisasi antara gigi-gigi. Akhirnya, kebutuhan estetik dapat membuat dokter gigi menangani permukaan restorasi yang tampak jelas dengan cara berbeda daripada permukaan yang sulit dijangkau. Walaupun pemolesan yang mirip cermin diinginkan demi alasan di atas, jenis permukaan ini mungkin secara estetik kurang baik karena tidak cocok dengan gigi-gigi di sebelahnya bila berada di daerah yang mudah kelihatan seperti permukaan labial dari gigi-gigi aterior atas. Meskipun demikian, permukaan ini tidak terkena tekanan kontak yang tinggi dan mudah dibersihkan. Ciri dan corak anatomi yang samar dapat ditambahkan pada daerah ini tanpa mempengaruhi kesehatan maupun fungsi rongga mulut.

2.3 Keausan Abrasif, Keausan Erosif, dan Kekerasan Abrasif
2.3.1 Keausan abrasif
Keausan adalah proses penghilangan bahan yang dapat terjadi bila permukaan saling bergesekan satu sama lain. Proses penyelesaian restorasi melibatkan keausan abrasi melalui pemakaian partikel keras. Pada kedokteran gigi, partikel paling luar atau bahan permukaan dari instrumen abrasi disebut sebagai abrasif. Bahan yang dirapikan disebut substrat. Pada kasus bur intan, partikel intan yang ada pada bur memiliki abrasif sementara gigi mewakili substrat. Juga diperhatikan bahwa bur pada hand piece kecepatan tinggi berputar searah jarum jam seperti terlihat dari gerak kepala hand piece. Arah putaran dari instrumen abrasif putar perlu diperhatikan untuk mengendalikan aksinya pada permukaan substrat. Jika hand piece dan bur meluncur pada arah yang sama dengan arah putaran bur pada permukaan, bur cenderung ‘lari’ dari substrat, sehingga diperoleh aksi pengasahan yang lebih tidak terkontrol dan permukaan yang lebih kasar.
Keausan abrasif lebih jauh lagi dibagi menjadi proses keausan dau dan tiga tubuh. Keausan dua tubuh terjadi jika partikel abrasif berikatan kuat pada permukaan instrumen abrasif dan tidak digunakan partikel abrasif lain. Bur intan yang mengasah gigi mewakili contoh dari keausan dua tubuh. Keausan tiga tubuh terjadi jika partikel abrasif dibiarkan bebas meluncur dan berotasi di antara dua permukaan. Profilaksis gigi, yang mencakup penggunaan mangkuk karet rotasi dan pasta abrasif pada permukaan gigi atau bahan, merupakan contoh dari keausan tiga tubuh. Kedua proses ini tidak ekslusif. Partikel intan dapat terlepas dari bur intan dan menyebabkan keausan tiga tubuh. Sama seperti beberapa partikel abrasif pada pasta abrasif dapat terjebak pada permukaan mangkuk karet dan menimbulkan keausan dua tubuh. Pelumas sering digunakan untuk meminimalkan resiko perubahan tidak disengaja dari keausan dua menjadi tiga tubuh dan sebaliknya.
2.3.2 Keausan erosif
Keausan erosif disebabkan oleh partikel keras yang menekan permukaan substrat, baik yang dibawa melalui aliran udara atau aliran air. Kebanyakan laboratorium gigi mempunyai unit balsting yang dijalankan dengan udara dan menggunakan arosi partikel keras untuk menghilangkan bahan permukaan. Jenis erosi ini harus dibedakan dengan erosi kimia, yang melibatkan bahan-bahan kimia seperti asam dan basa alih-alih dari partikel keras, untuk menghilangkan bahan substrat. Etsa asam adalah istilah umum yang digunakan lebih sering daripada erosi kimia. Erosi kimia tidak digunakan sebagai metode penyelesaian bahan gigi. Kegunaan utamanya adalah untuk mempreparasi permukaan guna meningkatkan bonding atau pelapisan.

2.3.3 Kekerasan Abrasif
Material
Moh’s Value
Material
Moh’s Value

Diamond 10 Quartz 7
Silikon Carbide 9-10 Tin Oxide 6-7
Emery 9-10 Porcelain 6-7
Tungsten Carbide 9-10 Garnet 6,5-7
Aluminum Oxide 9 Tripoli 6-7
Zirconium Silicate 7,5-7 Pumice 6
Cuttle 7

2.4 Faktor yang berpengaruh dalam Polishing di bidang kedokteran gigi
a. Kekerasan partikel abrasif; misalnya, diamond adalah bahan yang paling keras, sedangkan batu apung, batu akik, dan lain-lain relatif lebih lunak.
b. Bentuk partikel bahan abrasif; partikel yang mempunyai tepi tajam akan lebih efisien daripada partikel yang bersudut tumpul.
c. Besar partikel bahan abrasif; partikel yang lebih besar sanggup menghasilkan goresan yang lebih dalam.
d. Sifat-sifat mekanis bahan abrasif; bila bahan abrasif pecah, hendaknya dihasilkan tepi baru yang tajam. Jadi kerapuhan suatu bahan abrasif dapt merupakan suatu keberuntungan.
e. Kecepatan gerakan menggosok; gerakan partikel abrasif yang perlahan menghasilkan goresan yang lebih dalam.
f. Tekanan yang diberikan sewaktu menggosk; tekanan yang terlalu besar dapat membuat partikel abrasif pecah dan meningkatkan panas yang timbul karena gesekan.
g. Sifat-sifat bahan yang hendak digosok; bahan yang rapuh dapat digosok dengan cepat, sedangkan bahan yang lunak dan kenyal (misalnya, emas murni) akan mengalir dan bukannya terasah oleh abrasif.

2.5 Komposisi dari bahan Polishing di bidang kedokteran gigi
Ada beberapa jenis abrasif yang tersedia tetapi hanya yang umum yang digunakan dalam kedokteran gigi. Abrasif alamiah mencakup batu Arkansas, kapur, korundum, intan, ampelas, akik, pumice, quartz, pasir, tripoli, dan zirkonium silikat. Cuttle dan kieselguhr berasal dari sisa organisme hidup. Abrasif buatan pabrik adalah bahan disintesa yang umumnya lebih disukai karena mempunyai sifat fisik yang lebih dapat ditebak. Silikan karbid, oksida aluminium, rouge, dan oksida timah adalah contoh dari abrasif buatan pabrik.
1. Batu Arkansas. Batu Arkansas adalah batu endapan silika yang berwarna abu-abu muda dan semitranslusen yang ditambang di Arkansas. Mengandung quartz mikrokristal dan mempunyai corak yang padat, keras, serta seragam. Potongan kecil dari mineral ini dicekatkan pada batang logam dan ditruing ke berbagai bentuk untuk mengasah email gigi dan logam campur.
2. Kapur. Salah satu bentuk mineral dari calcite disebut kapur. Kapur adalah abrasif putih yang terdiri atas kalsium karbonat. Digunakan sebagai pasta abrasif ringan untuk memoles email gigi, lembaran emas, amalgam, dan bahan plastik.
3. Korundum. Bentuk mineral dari oksida aluminium yang biasanya berwarna putih. Sifat fisiknya lebih rendah daripada oksida alfa-aluminium, yang sudah banyak menggantikan korundum dalam aplikasi dental. Korundum digunakan terutama untuk mengasah logam campur dan tersedia dalam bentuk abrasif bonding dengan bermacam bentuk. Paling umum digunakan pada instrumen yang disebut white stone.
4. Intan. Intan adalah mineral tidak berwarna, transparan yang terdiri atas karbon. Ini adalah senyawa yang paling keras. Intan disebut superabrasif karena kemampuannya untuk mengatasi substansi apapun. Abrasif intan dipasok dalam berbagai bentuk, termasuk instrumen abrasif yang berputar, ampelas abrasif yang mempunyai backing logam lentur, dan pasta poles intan. Digunakan pada bahan keramik dan resin komposit.
5. Amril. Abrasif ini berupa korundum berwarna hitam keabuan yang dibuat dalam bentuk butiran halus. Amril digunakan khususnya dalam bentuk disk abrasif dan tersedia dalam berbagai ukuran kekasaran. Dapat digunakan untuk memoles logam campur atau bahan plastis.
6. Akik. Istilah akik mencakup sejumlah bahan yang berbeda yang mempunyai sifat fisik dan kristalin yang sama. Mineral ini adalah silika dari aluminium, kobalt, besi, magnesium, dan mangan. Abrasif akik yang digunakan dalam kedokteran gigi biasanya berwarna merah gelap. Akik sangat keras dan jika patah selama pengasahan, membentuk bidang berbentuk pahat yang tajam, membuat bahan ini menjadi abrasif yang sangat efektif. Akik tersedia dalam bentuk disk dan pita punjung. Digunakan untuk mengasah logam campur dan bahan plastik.
7. Pumis. Aktivitas gunung berapi menghasilkan bahan silika berwarna abu-abu muda. Digunakan terutama dalam bentuk pasir tetapi juga dapat ditemukan pada abrasif karet. Kedua bentuk ini digunakan pada bahan plastik. Tepung pumis adalah derivat batu volakanik yang sangat halus dari Italia dan digunakan untuk memoles email gigi, lempeng emas, amalgam gigi, dan resin akrilik.
8. Quartz. Bentuk quartz yang paling sering digunakan adalah yang sangat keras, tidak berwarna, dan transparan. Ini adalah bentuk mineral yang sangat banyak dan tersebar luas. Partikel-partikel kristalin quatrz dilumatkan untuk membentuk partikel angular yang tajam yang bermanfaat dalam membuat disk abrasif. Abrasif quartz digunakan terutama untuk merapikan logam campur dan dapat digunakan untuk mengasah email gigi.
9. Pasir. Pasir adalah campuran partikel mineral kecil yang terutama terdiri atas silika. Partikel ini berwarna-warni, membuat abrasif pasir mempunyai penampilan yang khas. Partikel pasir mempunyai bentuk bulat atau angular. Diaplikasikan tekanan udara untuk menghilangkan bahan tanam dari logam campur pengecoran. Juga dapat dilapiskan pada disk kertas untuk mengasah logam campur dan bahan plastik.
10. Tripoli. Abrasif ini berasal dari endapan batu silika yang ringan dan rapuh. Berwarna putih, abu-abu, pink, merah, atau kuning. Jenis yang berwarna abu-abu dan merah adalah yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi. Batu ini digiling menjadi partikel yang sangat halus dan dibentuk dengan pengikat lunak menjadi batang-batang senyawa pemoles. Digunakan untuk memoles logam campur dan beberapa bahan plastik.
11. Zirkonium silikat. Zirkon atau zirkonium silikat dipasok sebagai mineral berwarna putih kekuningan. Bahan ini digiling menjadi partikel dengan berbagai ukuran dan digunakan untuk melapisi disk abrasif serta ampelas. Sering digunakan sebagai komponen pasta profilaksis gigi.
12. Cuttle. Cuttlefish, cuttle bone, atau cuttle adalah nama yang umum untuk abrasif ini. Merupakan bubuk putih calcareus yang terbuat dari bagian dalam rumah kerang laut Mediterania dari genus Sepia. Tersedia sebagai abrasif lapisan dan digunakan untuk prosedur abrasi yang halus seperti memoles tepi logam dan restorasi amlgam gigi.
13. Kieselguhr. Bahan ini terdiri atas sisa-sisa silika dari tanaman laut kecil yang disebut diatom. Bentuk yang lebih kasar disebut tanah diatomaceus, yang digunakan sebagai bahan pengisi pada beberapa bahan gigi seperti bahan cetak hidrokoloid. Merupakan abrasif yang sangat halus. Risiko silikosis pernapasan karena pemajanan kronis terhadap partikel bahan ini yang ada di udara cukup besar karena itu tindakan pencegahan harus selalu dilakukan.
14. Silikon Karbid. Adalah abrasif yang sangat keras dan merupakan abrasif sintetik yang pertama kali dibuat. Baik yang berwarna hijau atau hitam-biru mempunyai sifat fisik yang setara. Bentuk hijau sering lebih disukai karena substrat terlihat lebih nyata di balik warna hijau tersebut. Silikon karbid sangat keras dan rapuh. Patikel-partikelnya tajam dan mudah pecah untuk membentuk partikel baru yang tajam. Ini menghasilkan efisiensi pemotongan yang sangat tinggi untuk berbagai bahan, termasuk logam campur, keramik, dan bahan plastik. Silikon karbid tersedia sebagai abrasif pada disk dan instrumen bonding vitreous serta karet.
15. Oksida Aluminium. Oksida aluminium adalah abrasif sintetik kedua yang dikembangkan sesudah silikon karbid. Oksida aluminium sintetik (alumina) dibuat berupa bubuk berwarna putih. Dapat lebih keras daripada korundum (alumina alami) karena kemurniannya. Alumina dapat diproses dengan berbagai sifat melalui sedikit mengubah reaktan pada proses pembuatannya. Ada beberapa jenis ukuran butiran dan alumina sudah semakin banyak menggantikan bahan amril untuk abrasif. Oksida aluminium digunakan secara luas dalam kedokteran gigi. Oksida ini dipakai untuk membuat abrasif bonding, abrasif berbentuk lapisan, dan abrasif yang dijalankan dengan motor udara. White stone dibuat dari oksida aluminium yang disintering dan populer untuk merapikan email gigi, logam campur, maupun bahan keramik.
Abrasif logam aluminium yang berwarna pink dan merah delima dibuat dengan menambahkan senyawa kromium pada bahan asli. Variasi ini dipasarkan dalam bentuk bonding viterous sebagai batu tidak terkontaminasi untuk preparasi logam campur logam-keramik sebelum menerima porselen. Sisa-sisa abrasif ini tidak boleh mengganggu pengikatan porselen ke logam campur. Hasil tinjauan ulang dari Yamamoto (1985) menunjukkan bahwa bur karbid merupakan instrumen yang paling efektif untuk merapikan jenis logam campur ini karena tidak mengkontaminasi permukaan logam dengan terjebaknya partikel abrasif.
16. Abrasif Intan Sintetik. Intan buatan digunakan khusus sebagai abrasif dan dibuat lima kali lebih besar dari tingkat abrasif intan alami. Jenis abrasif ini digunakan pada pembuatan gergaji intan, roda, dan bur intan. Blok yang ditanami partikel intan digunakan untuk mengasah jenis abrasif yang lain. Pasta pemoles intan juga dapat dibuat dari partikel yang diameternya lebih kecil dari 5 μm dan digunakan untuk memoles bahan keramik. Abrasif intan sintetik digunakan terutama untuk struktur gigi, bahan keramik, dan bahan resin komposit.
17. Rouge. Oksida besi adalah senyawa abrasif yang halus dan berwarna merah dalam rouge. Bahan ini dipadukan seperti tripoli, dengan berbagai pengikat lunak menjadi bentuk bedak. Digunakan untuk memoles logam campur mulia yang berkadar tinggi.
18. Oksida Timah. Abrasif yang sangat halus ini digunakan secara luas sebagai bahan pemoles untuk gigi dan restorasi logam di dalam mulut. Bahan ini dicampur dengan air, alkohal, atau gliserin untuk membentuk pasta abrasif ringan.

2.6 Alat dan bahan yang digunakan dalam Polishing di bidang kedokteran gigi
3.1.1 Alat
Straight dan Contra (Hand piece), Polishing Machine
Material mata bur :
• Logam
• Stainless steel
Murah, mudah aus dan keropos, penggunaan dengan kecepatan lebih dari 50.000 rpm dapat merusak bur.
• Karbid wolfram
Dapat digunakan dengan kecepatan sangat tinggi dan dengan material yang halus maupun kasar (untuk bur laboratorium, pemotongan akrilik, presisi tinggi)
• Almunium oksida
Keras seperti intan, tetapi lebih mudah untuk menggrinda akrilik, matriks resin dari komposit dan logam, kurang baik untuk porselen.
• Intan
Dapat memotong hampir semua benda, menimbulkan panas tinggi, dan dapat melelehkan beberapa material tertentu.

3.1.2 Bahan
1. Pasta
• Tin Oxide
• Zirkonium Oxide
2. Powder
• Silikon carbide dapat tersedia dalam bentuk puder, atau digabungkan dengan karet membentuk batu (stone) atau wheel/lempeng yang dipergunakan di laboratorium kedokteran gigi.
• Alumina dipergunakan sama seperti silikon carbide.
• Pasir (silika), ini dipergunakan :
 Sebagai ampelas
 Empeng kertas abrasif
 Pada prosedur sand-blasting, terutama untuk alloy cobalt- chromium.
• Batu apung diperoleh dari batu gunung berapi. Dipergunakan dalam bentuk suspensi dalam air, terutama pada penghalusan resin akrilik.
• Tripoli adalah batu gunung yang berpori yang dihaluskan, dicampur dengan malam untuk mendapatkan bahan seperti bata.
• Pumice
• Tin Oxide
• Zirconium Oxide
• Garnet
• Kieselguhr

3. Instrumen
• Di antara bahan abrasif yang diketahui, diamond adalah bahan yang terkeras partikelnya dapat ditanam dalam bahan pengikat keramik atau logam, seperti halnya pada bur gigi.
• Tungsten carbide dipergunakan terutama untuk pembuatan bur dan roda abrasif.
• Emery adalah campuran alumina dan besi yang tersedia sebagai suatu abrasif yang dilekatkan pada kain atau kertas.
• Batu akik adalah bahan abrasif yang relatif lebih lunak, mengandung magnesium aluminium silikat, dan dipergunakan sebagai pelapis untuk lempeng kertas.
• Cuttle-fish bone kegunaannya sama dengan batu akik.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat Dan Bahan

 Alat Resin Akrilik :
1. mata bur
2. pisau model
3. straight hp beserta mata bur
4. masker
5. kuas kecil
6. tali bur
7. mesin pulas

 Alat Logam :
1. sikat kecil
2. straight hp dan tali bur
3. diamond disc
4. kuas kecil
5. mata bur untuk pulas logam/alloy



 Bahan Resin Akrilik :
1. kertas gosok
2. pumice dan cryet
3. resin akrilik

 Bahan Logam :
1. kertas gosok
2. batu apung
3. Cu alloy (orden)

3.2 Cara Kerja
1. Polishing Resin Akrilik
1. Lempeng resin akrilik yang digunakan adalah lempeng resin akrilik dari tahap pekerjaan skill lab malam.
2. Merapikan lempeng akrilik menggunakan straight hp dan frazzer, bentuk lempeng sesuai dengan outline dan bebaskan daerah mukosa bergerak dan tak bergerak.
3. Tahap selanjutnya adalah polishing, meratakan permukaan lempeng akrilik dengan menggunakan kertas gosok, setelah rata dan halus pulas dengan mesin pulas dengan menggunakan pumice dan cryet.
4. Hasil yang maksimal adalah lempeng akrilik yang halus, rata dan mengkilat.

2. Polishing Logam
1. Rapikan model kasar logam yang sudah jadi disesuaikan dengan ukuran yang dikehendaki, kemudian dipulas. Pertama menggunakan arkansas stone sampai permukaan model terlihat halus, dilanjutkan dengan rubber warna merah dan terakhir dengan rubber warna hijau. Setelah permukaan logam terlihat halus dan mengkilat potong sprue dengan menggunakan diamond disc kemudian bekas potongan dirapikan dan dipulas.
2. Hasil maksimal adalah model logam dengan permukaan halus dan mengkilat, tidak porus dan sesuai dengan ukuran.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

RESIN AKRILIK
1. Penyelesaian / finishing
Pada tahap ini dilakukan pemotongan bagian-bagian yang berlebih. Merapikan pinggiran akrilik dan meratakan permukaan akrilik dengan bor stone, fraiser dan amplas halus.
2. Pemolesan/ polishing
Pemolesan ini merupakan tahap terakhir dalam manipulasi resin akrilik. Bahan yang digunakan untuk pemolesan pertama kali adalah pumish yang merupakan bahan dari batu apung yang dipergunakan dalam suspensi dalam air. Bahan selanjutnya dipoles dengan bahan yang lebih halus yaitu whiting yang dipergunakan dalam bentuk suspensi dalam air. Pemolesan ini dilakukan sampai permukaan akrilik halus dan mengkilap. Setelah itu diaplikasikan dalam model rahang yang baik yaitu pada waktu dilepas mudah dan pada waktu posisi terbalik akrilik tetap pada model rahang atau tidak jatuh.

LOGAM
Logam merupakan salah satu bahan kedokteran gigi yang memiliki sifat-sifat yang kita kenal keras, mengkilat, padat dan sebagainya. Dalam praktikum ini, kita dapat melihat sifat-sifat itu dengan jalan membuat model tuang dari logam.
1. Tahap Finishing dan Polishing
Pada tahap ini dilakukan perapian model kasar logam dan disesuaikan dengan ukuran semula. Kemudian logam dipoles dengan menggunakan arkansas stone sampai permukaan model terlihat halus. Lalu dilanjutkan dengan rubber warna merah dan terakhir dengan rubber warna hijau. Setelah permukaan logam terlihat halus dan mengkilat potong sprue dengan menggunakan diamond disc kemudian dirapikan dan dipulas pada daerah bekas potongan.

2. Hasil Akhir
Hasil akhir logam yang didapatkan adalah logam yang halus, mengkilat dan terdapat sedikit porus. Hal ini dikarenakan ketika mengaduk bahan tanam gipsum dengan bahan tanam fosfat tidak merata (masih tersisa udara).

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum polishing yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Bahan yang menyebabkan abrasi; bahan yang digunakan untuk mengikis, mengasah, dan menggosok
2. Fungsi Polishing di bidang kedokteran gigi
Proses pemotongan
Proses pengasahan
Proses penyelesaian
Proses pemulasan
3. Manfaat Polishing di bidang kedokteran gigi : kesehatan mulut, fungsi, dan estetika
4. Bahan Abrasif : pasta, powder, dan instrumen
5. Faktor yang berpengaruh dalam Polishing di bidang kedokteran gigi
- Kekerasan partikel abrasif
- Bentuk partikel bahan abrasif
- Besar partikel bahan abrasive
- Sifat-sifat mekanis bahan abrasive
- Kecepatan gerakan menggosok
- Tekanan yang diberikan sewaktu menggosk
- Sifat-sifat bahan yang hendak digosok

DAFTAR PUSTAKA


Anusavice, Kenneth J. 2003. Philips Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Edisi 10. Jakarta : EGC.

Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Jakarta : Balai Pustaka.

Craig, Robert, dkk. 1979. Dental Materials Properties And Manipulation. London : CV. Mosby Company.

Tim Penyusun. 2009. Buku Petunjuik Skill Lab Bahan dan Teknologi Kedokteran Gigi I. Jember : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.

1 komentar: