Jumat, 03 September 2010

Dental Wax - Malam

LAPORAN PRAKTIKUM
BAHAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN GIGI I
DENTAL WAX / MALAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Pada hakikatnya malam atau wax / liliin merupakan salah satu bahan yang memegang peranan penting di dalam ilmu bidang Kedokteran Gigi. Malam atau wax atau lilin dipergunakan sejak pertama kali di dunia Kedokteran Gigi sekitar abad 18, untuk tujuan pencatatan cetakan rahang yang tidak bergigi. Meskipun telah ditemukan bahan baru yang lainnya, malam masih digunakan dalam jumlah yang besar untuk keperluan klinik dan pekerjaan laboratorium. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut malam gigi biasanya dicampur dari bahan alami dan sintetis.
Karena penggunaan malam dalam kedokteran gigi ini maka perlu untuk mengetahui segala aspek dalam malam atu wax terutama sifat sifatnya sehingga akan memudahkan dalam memanipulasi, dan menghasilkan suatu hasil manipulasi yang maksimal. Dan untuk lebih memahaminya maka perlu dilakukan suatu percobaan yang akan memperlihatkan cara manipulasi malam yang benar serta pengaruh sifat sifatnya terhadap hasil manipulasi.
Pada perkembangan selanjutnya, malam dental sebagian besar digunakan dalam proses laboratorium, meskipun masih ada sebagian dari malam dental yang digunakan langsung pada rongga mulut penderita misalnya malam onlay untuk mencetak atau mengecek hasil dari preparasi sebuah gigi.
Sebuah malam dental juga harus memiliki syarat-syarat tertentu sehingga malam tersebut mampu memenuhi kebutuhan baik itu malam yang digunakan secara direct ataupun indirect. Pada proses laboratorium malam dental digunakan dalam banyak kepentingan, dan penggunaannya disesuaikan dengan jenis malam dan sifat dari masing-masing malam dental.
Konstitusi dasar malam yang dipergunakan di kedokteran Gigi berasal dari tiga sumber utama, yaitu :
 Mineral, seperti malam paraffin
 Serangga, seperti malam beeswax
 Tumbuhan, seperti malam ceresin dan carnauba

Ada beberapa jenis malam berdasarkan penggunaannya, antara lain :
 Malam model : Malam jenis ini banyak dipergunakan untuk keperluan membuat pola dan untuk pencatatan relasi rahang dalam bentuk gigi tiruan. Malam model yang digunakan untuk keperluan klinik hendaknya tidak mengalami perubahan dimensi ketika dipanaskan pada suhu mulut dan didinginkan pada suhu kamar.
 Malam lembaran tuang : Malam jenis ini tersedia dalam bentuk lembaran dengan ketebalan tertentu. Bahan malam tuang dan komponen polimer harus dibakar habis dari bumbung tuang tanpa meninggalkan residu.
 Malam inlay : Malam jenis ini banyak dipergunakan untuk pembuatan pola inlay, yang dapat dipergunakan langsung di dalam mulut atau dengan model.
 Carding dan Boxing wax : Malam jenis ini banyak dipergunakan untuk melekatkan gigi tiruan pada tempatnya dan untuk membuat dinding batas cetakan sebelum dilakukan pengisian.
 Malam perekat/sticky wax : Malam jenis ini berbentuk batang yang mudah patah/brittle, warna kuning, terbuat dari beeswax dan beberapa resin alami. Bahan ini hendaknya mudah dilepas dengan air mendidih dan memiliki kontraksi minimal sewaktu pendinginan untuk mencegah bergeraknya bagian-bagian yang hendak disambung.
 Malam cetak : Malam jenis ini dipergunakan untuk mencetak rahang yang tidak bergigi. Malam ini menunjukkan derajat aliran yang tinggi pada suhu mulut.

1.2. TUJUAN
1. Mengetahui berbagai macam-macam yang digunakan di kedokteran gigi
2. Memahami sifat-sifat malam dental di kedokteran gigi
3. Memahami cara-cara memanipulasi malam dental
4. Memahami kegunaan malam dental

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

o KONSTITUSI DASAR MALAM GIGI
Konstitusi dasar malam gigi yang digunakan untuk keperluan kedokteran gigi berasal dari tiga sumber utama:
 Mineral,
 serangga, dan
 tumbuhan
Karena sifat-sifat bahan yang dihasilkan secara alam ini tidak bisa dikontrol, malam sintetis (misal, derivate nitrogen dari asam lemak) atau polimer dari ethylene oksida mungkin memberi banyak keuntungan.

o SIFAT-SIFAT FISIS MALAM
Sifat fisis malam yang paling sering ditanyakan adalah titik cairnya. Walaupun ini mungkin penting dalam industri, tetapi tidak demikian halnya di kedokteran gigi di mana biasanya dipergunakan campuran berbagai malam. Sifat fisis malam yang penting dalam pemakaiannya di kedokteran gigi selain mengenail mudahnya dimanipulasi adalah;
 Suhu transisi padat-padat
 Ekspansi termis dan kontraksi termis
 Flow/aliran
 Internal stress/tegangan dalam

SUHU TRANSISI PADAT - PADAT
Sewaktu suhu malam meningkat terjadi transisi padat-padat di mana bentuk kisi kristal yang stabil (dalam kebanyakan malam berbentuk orthorhombic) mulai berubah menjadi bentuk hexagonal yang terjadi di bawah titik cair malam tersebut. Selama perubahan dari bentuk satu kisi ke kisi lain ini malam dapat dibentuk tanpa menyerpih, sobek atau terlalu stress.
Adanya titik transisi padat-padat dan suhu di mana ini bisa berlangsung tidak hanya memungkinkan malam dimanipulasi dengan baik, tetapi juga menentukan banyak sifat-sifat fisisnya dan kebaikannya untuk penggunaan di klinik dan laboratorium. Malam yang tetap kaku pada suhu mulut mempunyai suhu transisi padat-padat di atas 37C.

ALIRAN
Malam berubah bentuk ketika menerima suatu beban dalam waktu yang lama. Perubahan plastis ini atau presentase ‘aliran’ tergantung pada suhu, dan ini ternyata hanya sedikit bila suhu malam ada di bawah suhu transisi padat-padat (yaitu apabila bahan berada dalam bentuk kisi kristal yang stabil).
Sifat aliran malam dan campuran malam meningkat apabila suhu naik sampai di atas suhu transisi.
Malam inlay yang digunakan dalam teknik langsung penting agar:
 memiliki aliran yang besar pada suhu sekitar 5%C di atas suhu mulut, sehingga dapat dihasilkan detil cetakan yang baik.
 aliran pada suhu 37C demikian kecil hingga dapat diabaikan, sehingga tidak terjadi distorsi sewaktu pengeluaran pola malam dari kavitet.
(E.C. Combe, 1992)

SIFAT YANG DIINGINKAN DARI MALAM INLAY COR
Dalam penggunaannya dalam kedokteran gigi, sifat malam inlay cor yang diinginkan adalah sebagai berikut:
 Jika lunak, malam harus merata. Dengan kata lain, bahan-bahan dasarnya harus tercampur dengan baik satu sama lain, sehingga tidak ada butiran atau titik-titik yang keras ketika malam dilunakkan.
 Warnanya harus sedemikian rupa sehingga kontras dengan bahan die, karena itu, kontras yang dipreparasi. Tepi malam harus diukir dengan ide, karena itu, kontras yang nyata dalam hal warna akan memungkinkan dilakukannya perapian yang baik dari berbagai tepi.
 Tidak boleh terkelupas atau terjadi kekasaran permukaan yang serupa ketika malam dibengkokkan dan dibentuk sesudah dilunakkan. Pengelupasan cenderung terjadi pada malam parafin, dan merupakan salah satu alasan mengapa ditambahkan modifier.
 Sesudah model malam memadat, perlu dilakukan pengukiran anatomi gigi asli pada malam dan seperti sudah disebutkan di atas, mengukir malam pada bagian tepinya sehingga model malam duduk tepat pada permukaan die. Prosedur yang terakhir ini kadang mengharuskan malam diukir sedemikian rupa sehingga membentuk lapisan yang sangat tipis. Jika malam tertarik karena instrumen pengukir atau gumpil sewaktu diukir, maka ketepatan tidak dapat diperoleh.
 Seperti disebutkan di atas, sesudah mold dibuat, malam dibersihkan dari mold. Penghilangan malam tersebut biasanya dilakukan dengan memanaskan mold sehingga malam hilang. Jika sesudah pembakaran tersebut, malam meninggalkan residu yang menghasilkan lapisan tak tembus air pada dinding mold, inlay hasil pengecoran dapat trpengaruh secara negatif, seperti akan dibicarakan pada bagian berikut. Karena itu, malam harus dibakar habis, membentuk karbon yang nantinya dihilangkan melalui oksidasi menjadi gas yang menguap. Spesifikasi ADA No. 4 mengharuskan agar malam yang mencair jika menguap pada 500C (932F) tidak meninggalkan residu padat lebih dari 0,10% dari berat aslinya.
 Idealnya, model malam harus kaku dan mempunyai kestabilan dimensi yang baik sepanjang waktu sampai nantinya dihilangkan model malam terpajan aliran kecuali bila ditangani dengan hati-hati. Juga terpajan relaksasi, suatu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam manipulasi.
(Kenneth J. Anusavice, 1992)

Malam yang dipergunakan di dunia Kedokteran Gigi harus memenuhi syarat sebagai berikut :
 Stabil pada suhu mulut
 Dapat mengisi rongga cetak
 Non iritan dan Non toxic
 Tidak meninggalkan residu
 Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan
(Wilson,1987)

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 ALAT DAN BAHAN
Alat :
 Lampu spiritus
 Pisau malam
 Pisau gips
 Pisau model
 Chip blower
 Pensil tinta
Bahan :
 Baseplate /malam merah
 Model rahang bawah tidak bergigi
3.2 CARA KERJA
1. Setelah menerima semua bahan yang diperlukan, rapikan basis model dengan pisau gips, beri identitas pada basis model dengan pensil tinta.
2. Gambarkan outline pada model, perhatikan daerah frenulum, bebaskan daerah tersebut, jika masih belum terampil menggambar outline dengan pensil biasa terlebih dahulu, jika sudah disetujui oleh instruktur tebalkan outline dengan menggunakan pensil tinta.
3. Bagi dua sama besar baseplate yang ada. Untuk RA dapat langsung dimanipulasi, tetapi untuk yang RB sebelum dimanipulasi potong bagian tengah baseplate berbentuk segitiga dengan ukuran sebagai berikut:
Gambar malam yang di potong :




4. Siapkan lampu spirtus dengan api yang sedang, kemudian malam dimulai dengan cara, panaskan di atas lampu spirtus secara merata, setelah malam mencapai suhu transisi padat-padat letakkan lempeng malam di atas model kemudian tekan-tekan dengan menggunakan ibu jari, perhatikan jangan sampai merobek lembaran malam menjadi keras panaskan kembali di atas lampu spirtus.
5. Setelah permukaan malam menempel pada model potong malam sesuai dengan garis outline dengan menggunakan pisau model dan pisau malam sesuai dengan kebutuhan.
6. Rapikan seluruh tepi malam.
7. Hasil maksimal adalah seluruh malam dapat diaplikasikan pada model dengan ketebalan yang sama dan tepi yang rapi sesuai garis outline, halus dan permukaannya rata.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
 Bentuk malam sesuai dengan model yang ada
 Garis batas malam sesuai dengan outline yang telah dibuat
 Permukaan malam kurang halus
 Permukaan malam terlihat tidak mengkilap

4.2 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, malam yang dipergunakan adalah malam merah atau malam lembaran. Malam ini banyak dipergunakan untuk keperluan membuat pola dan pencatatan relasi rahang dalam pembuatan gigi tiruan atau lebih dikenal dengan malam model.
 Outline
Pada praktikum malam ini, pertama kali yang dilakukan adalah membuat outline, yang nantinya dijadikan pedoman manipulasi malam.
Outline form merupakan garis nyata yang membatasi antara mukosa bergerak dan tidak bergerak yang berfungsi sebagai batasan dalam aplikasi malam. Pembuatan outline form ini harus memperhatikan Anatomical Landmark. Pada aplikasi malam, outline form digunakan sebagai batasan terluar luasan malam yang diharapkan. Sehingga sebelum melakukan pembuatan outline praktikan harus memahami atomical landmark rongga mulut

 Manipulasi
Malam sebelum dilakukan pemanasan memiliki sifat yang mudah flaking atau robek / patah. Hal ini disebabkan karena sebelum pemanasan dilakukan struktur dari bentuk kristalnya adalah orthorhombik yang menyebabkan kisi kristalnya dalam keadaan stabil dan pada akhirnya bila dipaksakan dimanipulasi dengan memberikan tekanan-tekanan pada malam maka malam akan menyerpih, robek serta terbentuk tegangan dalam (internal stress), sehingga bila pada saat dipanaskan tegangan yang ada akan dilepaskan dengan disertai distorsi.
Pada saat dilakukan pemanasan secara merata pada seluruh permukaan malam, ada lekuk-lekukan pada bagian malam sehingga akan diketahui suhu transisi dimana malam akan dapat dimanipulasi dengan mudah pada model yang tesedia. Tujuan dari pemanasan secara merata sendiri relevan dengan sifat fisis malam yang merupakan konduktor termis yang jelek dan memiliki daya flow yang baik. Apabila sat dipanaskan hanya sebagian saja yang terkena panas maka panas tersebut tidak akan disebarkan ke bagian yang lainnya dan pada tempat yang ter terkonsentrasi oleh pemanasan akan segera mencair. Selain itu dengan memanaskan secara merata juga akan menghindarkan terjadinya tegangan dalam.
 Besarnya suhu transisi dimana malam akan dapat dimanipulasi dengan mudah adalah 37°C. Pada suhu transisi padat-padat inilah terjadi perubahan bentuk struktur kristal yang stabil orthorhombic menjadi heksagonal..
 Setelah malam mencapai suhu transisi padat-padat, malam siap untuk diaplikasikan diatas model kerja. Dilakukan penekanan oleh jari-jari tangan sehingga malam akan dapat membentuk kontur model yang sesuai dengan kebutuhkan.
Penting agar kondisi kuku praktikan rapi sehingga pada hasil manipulasi malam tidak terdapat goresan atau teraan kuku praktikan yang dapat terjadi saat menekan nekan malam dengan ibu jari.

 Merapikan
Kelebihan dari malam yang tidak dibutuhkan dibuang dengan memotong menggunakan pisau model dan pisau malam. Dalam merapikan malam dengan pisau model diperluakan kehati-hatian dan kecermatan sehingga kesalahan yang terjadi yaitu didapatinya bekas goresan pisau malam pada hasil manipulasi dapat dihindari.
Tahap proses merapikan selanjutnya yaitu dengan menggunakan chip blower juga harus dikerjakan dengan hati hati. Harus dihindari api yang dihembuskan terlalu besar atau terlalu kecil. Apabila api yang dihembuskan terlalu besar maka akan terbentuk tegangan dalam yang terakumulasi pada daerah yang terkena panas tadi, sedangkan jika hembusan panas terlalu kecil tidak akan ada pengaruhnya terhadap malam

BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum malam atau dental wax ini dapat disimpulkan yaitu :
o Untuk melakukan manipulasi yang baik perlu diperhatikan hal- hal sebagai berikut :
 Malam yang dipergunakan harus memenuhi syarat sebagai malam yang baik untuk dipergunakan di Kedokteran Gigi.
 Praktikan/ mahasiswa harus mengetahui sifat-sifat malam sehingga memudahkan manipulasi dan aplikasi serta hati-hati dan teliti.
 Dibutuhkan keterampilan yang cukup dengan cara latihan.

o Di dalam melakukan manipulasi malam perlu diperhatikan atara lain adalah :
 Pembuatan outline yang benar sesuai anatomical landmark rongga mulut
 Suhu transisi padat-padat untuk membentuk malam pada model
 Penggunaan instrumen yang hati hati sehingga tidak menimbulkan goresan pada malam

o Malam mempunyai sifat sifat sebagai berikut:
 Suhu transisi padat-padat
 Ekspansi termis dan kontraksi termis
 Flow/ daya aliran
 Internal stress.

o Malam memiliki sifat padat yang apabila di panaskan dapat merubah bentuknya, namun mengurangi volumenya.

DAFTAR PUSTAKA

Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC.
Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah : Slamat Tarigan. Jakarta : Balai Pustaka
Craig, Robert G, and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material: 11th edition. United State of America : Mosby.
Hatrick, Carol Dixon. 2003. Dental Material : Clinical Application for Dental Assistants and Dental Hygienist. Philadelphia : Saunders.
Van Noorth, Richard. 2002. Dental Material second edition. London : Mosby.
Wilson, H. J. dkk. 1987. Dental Technology and Materials for Students. Blackwell Scientific Publication.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar